Sabtu, 26 Mei 2012

Keep Sabar ya Sodara-Sodara :)


Setelah sekian lama berkutat dengan rumus dan teori-teori para pujangga Fisika, akhirnya ada sedikit celah waktu bagi saya untuk bercerita pada Anda-Anda sekalian Sodara-Sodara, hehe...
Nah, kali ini saya akan sedikit bercerita dengan hal yang disebut dengan “sabar”. Sabar di sini dalam konteks sabar dalam berkendara yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yang tak jauh beda listrik dinamis (?).

Selama hampir satu tahun lebih tiap saya pulang-pergi dari rumah ke tempat saya menuntut ilmu dengan mengendarai sepeda motor, akhirnya saya memiliki sebuah pemikiran cemerlang melebihi pemikiran penting kakek Einstein #plaaakkk.
Sabar, suatu hal yang benar-benar sulit dilakukan manusia biasa seperti kita. Orang yang paling sabar saat ini menurut saya adalah belum ada. Karena yang paling sabar ya para Nabi utusan Allah swt. Kita manusia hanya bisa bersabar ala kadarnya dan, sabar, tidak ada batas kok. Kembali ke bahasan awal tentang pemikiran cemerlang saya, sabar dapat kita lakukan dimana saja, kapan saja, dan dalam keadaan apapun. Salah satunya saat berkendara sepeda motor. Kenapa? Karena kita akan mengalami dan mendapati keadaan jalan dari yang tenang, biasa, macet, bahkan kebut-kebutan. Pernah suatu ketika saat saya kembali dari rumah saya menuju kota tempat saya menuntut ilmu, karena saat itu waktu masih pagi, saya berencana mengendarai motor dengan kecepatan biasa saja, berkisar 40-60 km per jam. Termasuk kecepatan yang lambat kan? Bahkan saya berada di jalur paling kiri, keadaan yang benar-benar aman (buat saya-red.). saat dalam keadaan bersantai dan perlahan, tiba-tiba dari belakang ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melewati saya sambil berklakson sangat kencang ceria berasa sedang pentas dalam konser spektakuler. Kontan saya terkejut. Apa salahku? Kenapa kau buatku begini, wahai mobil? Serasa jantung ingin melesak ke dalam tubuh lebih dalam. Kontan, amarah membuncah dalam diri saya. Gimana gak amarah? Berkendara udah di jalur paling kiri, masih aja diklakson keras, emang ni jalan punya kakek ente? #diem! Plaaak! Sabar tauk! Oh iya ya, hehe.
Selain itu, tiap saya pulang dari kota tempat saya menuntut ilmu ke rumah orang tua saya, jantung saya berasa di roller coaster. Karena memang waktu pulang itu menunjukkan angka 1-2 siang, dimana bis-bis besar menuju ibukota selalu lewat dengan kencang, kesabaran saya diuji lagi. Dari arah berlawanan, ada sebuah bis besar melaju kencang, dibelakangnya ada bis yang ingin mendahuluinya, bahkan sudah mendahului, dan dalam keadaan bis tersebut mendekati kearah saya. Kontan, saya langsung berhenti di tempat, memejamkan mata, dan hanya berdoa pada Gusti Ingkang Maha Kuwaos supados taksih diparingi keslametan. Dan saat membuka mata, gesekan bis dengan angin, menyebabkan saya agak terhuyun. Saya hanya bisa terbengong sambil melanjutkan berkendara. Dalam hati jelas mengumpat. Tapi saya teringat pesan ibunda tercinta, tiap berkendara harus berdoa. Nah, dari itu, saya berpikir, berkendara memang membutuhkan kesabaran ekstra. Sodara-sodara yang apabila saat berkendara namun di dahului lebih kencang, jangan marah-marah ya... apalagi mengeluarkan kata-kata kotor. Itu tidak baik, notabene jalanan merupakan milik bersama yang dibiayai pemerintah dan diciptakan oleh Tuhan.
Yang perlu dan sangat diperhatikan saat berkendara bukan hanya kesabaran saja, selain itu juga dibutuhkan konsentrasi ekstra ya. Diantaranya saat akan berbelok, temen-temen semua jangan lupa menyalakan lampu sein-nya, sebisa mungkin radius 2 meter sudah dinyalakan. Lalu, helm digunakan dengan baik. Gunakan slayer atau masker untuk pelindung wajah (tapi bukan berarti seluruh wajah ditutupin masker -___- ), cukup untuk melindungi pernapasan kita dari polusi udara.
Sabar, sangat banyak definisi yang bisa kita buat. Yang terpenting, sabar bisa kita lakukan kapan saja, dimana saja, dan dalam keadaan apa saja. Terutama saat berkendara. Kita tak akan pernah tau bagaimana masa depan kita dan bagaimana keadaan kita nanti saat berkendara. Kita hanya bisa pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa akan hidup dan mati kita.
Bahasan di entri ini memang agak menyimpang dari judulnya ya Sodara-Sodara, tapi inti terpentingnya satu, sabar. Saya yakin, saat sodara-sodara bersabar, pasti sodara-sodara akan merasa tenang hatinya. Tetap semangat berlatih bersabar ya! ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar